Jumat, 18 Oktober 2013
Kamis, 10 Oktober 2013
Kampung Adat Praiyawang
Kampung Praiyawang (69 km) terletak di sebelah Timur Kota Waingapu. Kampung tersebut merupakan ibukota kepala Swapraja Rindi Mangili. Pada saat ritual penguburan Raja Rindi Mangili ke-II, penarikan batu kubur menelan korban jiwa sebanyak ratusan orang. Disana ada beberapa Rumah Adat yang digunakan pada ritual khusus seperti Rumah Adat Haparuna khusus untuk ritual adat kematian Raja-raja saja. Sedangkan Uma Ndewa digunakan khusus untuk ritual adat acara cukur rambut bagi anak Raja yang yang baru lahir dan sebagai penerangan di rumah ini hanya boleh menggunakan lampu minyak tanah saja.
Kampung Pau/Umabara
Kampung Pau/Umabara adalah sebuah kampung yang terletak di pinggir kali Melolo yang merupakan ibukota Swapraja Melolo. Dari Raja Pertama s/d Raja yang keempat, yang terakhir adalah Oemboe Windi Tanangoenjoe. Rumah Jabatan yang masih utuh terletak di Pau. Disana masih tersedia meriam-meriam kuno yang biasa dibunyikan pada saat penguburan Raja-raja, dan yang terakhir adalah penguburan Umbu Retang Tamba, Umbu Tay Tanggurami, Umbu Bala Kapita, dan T.R Ipa Hoy.
Kampung Adat Prailiu
Kampung Adat Prailiu adalah sebuah ibukota kerajaan Lewa Kambera yang terletak disebelah Timur kota Waingapu. Keaslian eksotika kampung adat ini tetap terjaga ketradisionalannya. Rumah-rumah adat yang oleh warga kampung disebut Uma Mbatang/ Uma Hori, kuburan megalitik yang disebut reti dan patung-patung (penji) serta sejumlah benda purbakala masih terpelihara dengan baik.
Sarung dan selendang tenun ikat (lau, hinggi dan tiara), turut menambah kental suasana tradisional di kampung itu. Kepala Swapraja Lewa Kambera yang terakhir adalah Tamu Umbu Nggaba Hungu Rihi Eti (Umbu Nai Hawurung)
Warga di perkampungan adat Raja Prailiu ini terampil menenun ikat. Tenunan mereka mampu menembus pasaran nasional dan internasional. Tenunan yang asli menggunakan bahan natural dari hasil hutan di sekitar kampung," menggunakan bahan alamiah melalui proses yang panjang. Untuk pewarna kain digunakan bahan alamiah. Warna biru dari pohon nira/wora dan kuning kemerahan (kombu dan luaba) dari akar pohon mengkudu dan luaba . Semua proses pembuatan dikerjakan secara manual.
Jumat, 04 Oktober 2013
KAMPUNG HAMA PARENGU
Obyek ini terletak di desa Kuta Kecamatan Kanatang ± 2 jam berjalan kaki dari mananga mihi. Hama Parengu merupakan bekas perkampungan yang sudah ditinggalkan oleh penghuninya. Dulu kampung ini dihuni oleh 12 marga yang dipimpin oleh Marga Ana maeri. Kampung ini dikelilingi oleh pagar batu sehingga kampung ini juga dikenal dengan benteng Hamaparengu. Dikampung ini anda dapat menyaksikan kubur batu megalitikum, meriam dan kuali raksasa. Serta pada tahun – tahun tertentu, di kampung ini masih dilaksanakan ritual atau upacara adat (Mangejing).
• Jarak tempuh dari Dermaga menuju obyek : 20 km
• Aktifitas yang dapat dilakukan : foto dan menikmati sunrise dan sunset di hamparan padang sabana, menunggang kuda.
• Akomodasi : tidak terdapat akomodasi di sekitar obyek, tamu biasanya menginap di hotel yang terdapat di pantai puru kambera yaitu: Pondok Wisata Pantai Cemara – Puru Kambera – Desa Mondu Kecamatan Haharu
Senin, 30 September 2013
KEMATIAN DAN PENGUBURAN
Kematian dilihat dari transisi antara hidup duniawi dan akhirat dan merupakan peristiwa penting dalam perjalanan seseorang menuju kebahagiaan sejati. Oleh karenanya penguburan harus dilaksanakan dengan upacara khusus agar arwah manusia layak masuk dalam Praimarapu (Surga). Setelah mayat disimpan bahkan sampai bertahun-tahun, dilakukan penyembelihan ternak kerbau dan kuda dalam jumlah besar (tergantung status sosial) sebagai sesaji pengiring penguburan. Upacara ini terdiri dari dua tahap, pertama
jenazah dibungkus dengan kain berlapis-lapis lalu diletakkan dalam peti kayu dengan diameter 1,50 cm (pada jaman dahulu tidak menggunakan peti berbahan kayu, melainkan menggunakan kulit kerbau yang telah dikeringkan). Jenazah diletakkan dalam posisi jongkok (seperti posisi janin dalam rahim ibu, yang memiliki makna “Lahir Baru”) lalu ditempatkan dalam rumah adat sambil menantikan upacara berikutnya.
Jenazah dijaga oleh Papanggang/Ata Ngandi (Hamba Bawaan) yang juga berperan sebagai mediator dengan sang arwah. Sehari sebelum berakhirnya tahap pertama diadakan upacara Pahadang yang dipimpin oleh Ratu (Pendeta Marapu). Sebelum tahap kedua, batu kubur sudah disiapkan dengan ukuran tergantung status sosial. Batu tersebut harus ditarik dari luar kampung yang diawali dan diakhiri dengan upacara khusus. Jenazah diusung dan diarak dalam suatu prosesi sambil diiringi oleh arakan kuda berhias yang ditunggangi oleh hambanya (Ata Ngandi) sampai ketempat pemakaman jenazah ditempatkan dalam kubur batu megalit. Anda dapat melihatnya di Kampung Prailiu, Pau dan Praiyawang, serta kampung-kampung tradisional lainnya.
EAST SUMBA
Pulau Sumba merupakan salah satu dari 3 pulau terbesar di Propinsi Nusa Tenggara Timur yaitu Pulau Flores, Timor dan Sumba. Pulau Sumba terletak di Tenggara Pulau Bali, sebelah selatan Pulau Flores, di sebelah barat daya Pulau Timor,di sebelah barat laut Darwin – Australia. Pulau Sumba terbagi atas 4 (empat) Kabupaten yaitu Kabupaten Sumba Timur dengan ibu kotanya Waingapu dan Kabupaten Sumba Barat ibu kotanya Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat Daya ibu kotanya Waitabula, Kabupaten Sumba Tengah ibu kotanya Waibakul. Luas Kabupaten Sumba Timur adalah 7000,5 Km2 dan di sebelah selatan terdapat 4 pulau kecil yaitu Pulau Salura, Pulau Mengkudu (Manggudu), Pulau Kotak dan Pulau Nusa.
Jumlah penduduk Kabupaten Sumba Timur per 31 desember 2012 berjumlah 239.899 jiwa. Secara administrasi pemerintahan Kabupaten Sumba Timur terbagi dalam 22 Kecamatan, dan 156 Desa/Kelurahan. Iklimnya bercirikan iklim kering dengan temperatur rata-rata 28°c
Pada umumnya masyarakat Sumba Timur terbagi dalam 3 (tiga) tingkat strata sosial yakni Maramba (raja), Kabihu (pejabat adat) dan Ata ( hamba ). Mayoritas penduduk beragama Kristen Protestan dan Katolik namun masyarakat Sumba masih tetap memegang teguh adat istiadat yang berlandaskan kepercayaan asli Sumba yaitu “Marapu” dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Langganan:
Postingan (Atom)